Serasi

Hidayat Abisena
4 min readApr 2, 2024
Judulnya Happiness tapi ceritanya kagak ada happy-happy nya

Suatu hari saya sedang berjalan-jalan di mall Paris Van Java, Bandung, untuk sekedar membaur di keramaian seperti orang-orang pada umumnya. Lalu saya melihat dua orang yang sedang bergandengan tangan. Si Pria, penampilannya enak dilihat, good looking, rapi, tinggi, dan tampak berkharisma. Disisinya seorang wanita berambut hitam panjang, penampilannya elegan, terlihat indah dengan paras muka yang anggun. Mereka berdua tampak serasi. Setidaknya di penglihatan saya yang penampilannya kumal ini.

Lalu saat saya di dalam lift, masuklah sepasang suami — istri beserta dua anak lelakinya yang lucu-lucu dan nampak enerjik. Pakaian yang mereka kenakan sangatlah modis. Ciri khas warga Bandung yang rata-rata memang ngerti soal fashion dan ngerti gimana biar penampilannya enak dilihat.

Di bagian dalam lift ada dinding serupa cermin. Lalu saya melihat pantulan diri saya sendiri pada dinding tersebut. Saya mengenakan sweater warna biru, celana jeans belel, sandal gunung, wajah terlihat lelah serta rambut yang tidak disisir dengan rapi. Agak kurang enak dilihat bahkan oleh diri saya sendiri. Kontras dengan satu keluarga tersebut yang terlihat sangat serasi.

Setelah keluar lift saya lalu merogoh ponsel dan menghubungi nomor Whatsapp sahabat saya, seorang model cantik asal Jogja. Kepadanya saya bertanya, “Bagaimana caranya mengubah penampilan agar terlihat lebih stylish? Biar enak dilihat oleh orang lain?”

Lalu dia membalas pesan saya dan menjawab:

“Coba kamu kirimkan foto terbarumu. Aku mau lihat!”

Saya pun memberikan foto selfie saya. Lalu sahabat saya memberikan tips busana yang sekiranya cocok untuk saya dari sisi jenis dan warna, sembari menyampaikan sebuah pesan:

“Kalau kamu ingin mengubah penampilan, pastikan itu bukan karena orang lain. Karena akan sangat melelahkan dan tidak ada faedahnya buat mu!” ~ Kim Ta-mi

Fortune Cookie

Disadari atau tidak, penampilan itu menguntungkan. Ini bukan tentang good looking. Juga bukan tentang genetika. Ini tentang selera, dimana jika menyangkut tentang selera, pembahasannya bisa sangat-sangat fluid dan debatable. Saya pun sebenarnya suka malu saat melihat diri saya sendiri di depan cermin. Penampilan saya kurang enak dilihat. Ada yang harus diubah dari cara saya mempresentasikan diri.

Kenapa ingin diubah? Sebelum menjawabnya, ijinkan saya membagikan tangkapan layar berikut:

https://youtu.be/Xz8tcYEp4Wg?si=hSJOwBpGwfsYNIKC

Vikra Ijas. Co-founder dari KitaBisa. Orangnya smart. Calm and Collected. Artikulatif. Good looking. Well educated. Pertama kali saya bertemu dengan mas Vikra waktu itu rambutnya masih gondrong seperti anak band. Waktu itu kita bertemu di acara dinner yang diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia untuk project AidHub.

Fast forward saat ini, di podcast nya bu Grace Tahir, mas Vikra makin terlihat tampan dan berwibawa dengan penampilannya yang sekarang.

https://youtu.be/234ZTfX07-Y?si=LEyuBjgJ-hRHwcOP

Zhafira Aqyla. Smart. Alumni Harvard. Artikulatif. Beautiful. Murah senyum. Dari keluarga yang terdidik. Saya belum pernah bertemu dengan mbak Zhafira. Tapi di kepala saya, berimajinasi bahwa orang seperti Zhafira akan serasi jika bersanding dengan mas Vikra.

Tentu saja itu hanya imajinasi saya ya, si netizen gabut, hahahaha. Di kehidupan nyata, masing-masing mereka sudah punya pasangan serasinya sendiri. Dan tentu saja mas Vikra dan mbak Zhafira tidak saling mengenal satu sama lain.

Kebanyakan nonton drakor jadinya suka ngeships.

Jadi kembali ke pertanyaan kenapa ingin mengubah penampilan? Jawabannya bukan tentang penampilannya. Tapi tentang rasa bangga kepada diri sendiri yang di representasikan lewat penampilan.

Orang-orang seperti Vikra Ijas dan Zhafira Aqyla, adalah orang-orang yang punya rasa percaya diri yang tinggi. Self-esteemnya tinggi. Itu tercermin dari cara mereka merepresentasikan diri mereka di publik. Mereka gak neko-neko secara penampilan. Tapi kita bisa menangkap kesan bahwa mereka ada “isi” nya. Bukan cuma penampilannya yang enak dilihat, tapi cara mereka berbicara, cara mereka membawa diri, jelas terlihat punya value.

Sehingga orang-orang yang datang dan berada di lingkarannya bukanlah orang-orang sembarangan. Intinya, saya akan berfikir dua kali jika kelak harus bertemu kembali dengan mas Vikra, atau bertemu dengan mbak Zhafira, saya tidak ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja. Saya ingin menampilkan versi terbaik dari diri saya agar terlihat serasi secara value maupun intelektualitas.

Beneran intelek yah bukan cuma tong kosong berbunyi nyaring. Itu sebabnya saya lebih rajin membaca, rajin belajar, gemar menabung, tidak sombong, rajin cuci piring, serta rajin membantu orang tua.

Closure

MBTI

Orang-orang yang tidak punya rasa percaya diri, self esteem nya rendah, mudah untuk dimanipulasi. Setiap kali saya merasa rendah diri, saya akan mengingat kata-kata tersebut. Karena saya tidak suka dimanipulasi, maka saya harus punya rasa percaya diri. Self-esteem saya harus ditingkatkan. Agar saya bisa aware dan serasi dengan orang-orang yang saya anggap punya value.

Serasi bisa juga diartikan untuk tidak memaksakan diri supaya fit in dengan orang yang bahkan melihat kita dengan sebelah mata.

Serasi bisa diartikan untuk mundur teratur ketika kita diabaikan. Bukan karena tidak ada effort yang kita lakukan. Simply karena tidak serasi saja.

Serasi, bisa diartikan untuk memilih kompatibilitas ketimbang satu frekuensi.

Serasi, bisa diartikan sebagai cara kita untuk realistis bahwa what you see on the screen are not always what it seems.

Serasi, adalah kita menemukan versi terbaik dari diri kita yang unik daripada yang lainnya. Bagaimana bisa kita dengan jelas terlihat oleh seseorang kalau kita tak ada bedanya dengan orang yang lalu lalang?

--

--