Relationship: Bukan Bisnis, Bukan Matematika

Hidayat Abisena
2 min readNov 22, 2023
It’s Okay Not To Be Okay

Kapan kamu tahu kalau kamu salah? Kapan persisnya kamu mengetahui bahwa tindakan mu salah? Setelah atau sebelum melakukan kesalahan? Ternyata nyadarnya setelah melakukan kesalahan.

Dari yang awalnya ngerasa tindakan ku benar, ketika sudah dapat feedback dari orang lain barulah menyadari bahwa tindakan ku salah.

Kadang akal sehat pun gak jalan. Gak selalu jalan. Kadang pinter, seringkali bloon. Tanpa disadari ada beberapa tindakan yang merugikan orang lain. Menyakiti orang lain. Tapi kok bisa-bisanya bilang tanpa disadari? Memangnya waktu melakukannya lagi gak nyadar apa gimana?

Kenapa bisa bilang begitu? Karena sama sekali gak ada niatan buat nyakitin orang. Defense mechanism reflek muncul ketika dihadapkan pada situasi yang menyakitkan. Defense mechanism berupa menghindari masalah selayaknya pengecut. Tapi aku tidak lari dari masalah. Aku selalu siap menyelesaikan masalah selama ada komunikasi yang clear dari dua arah.

Aku tidak bisa berhadapan dengan orang yang menutup pintu terhadap komunikasi dua arah. Meski begitu aku juga bukan orang yang bebal yang tidak mau mengakui kesalahan. Aku bersedia meminta maaf dengan harapan bisa memperbaiki kesalahan, atau ya menanggung beban perasaan bersalah seumur hidup.

Aku tahu aku salah. Aku juga menerima ketika orang melampiaskan emosinya kepadaku. Setiap kata demi kata yang diucapkan, aku cerna baik-baik. Aku telan. Aku terima seperti anak kecil yang sedang dimarahin habis-habisan oleh orang tuanya. Harapanku agar orang yang telah aku lukai bisa merasa lebih baik. Meskipun tentu tidak sesederhana itu. Tidak ada rumusan baku jika melakukan A, maka inginnya di respon agar bisa B.

Tidak bisa seperti itu karena relationship bukanlah bisnis dan matematika. Tidak ada rumusan pasti, tidak ada formula suksesnya. Relationship adalah tentang consideration dan compatibility. Tentang dua pihak yang bisa saling memahami dan bisa cocok (kompatibel).

Problematik? Mungkin iya, tapi belum tentu juga apabila melihatnya dari sudut pandangku. Sudut pandang orang yang merespon sesuatu seperti rubber band.

Tapi yang jelas dari kesalahan-kesalahan yang ditunjukkan oleh orang lain, kita jadi tahu dan berusaha untuk memperbaiki. Dan dalam proses memperbaiki diri tersebut, kamu membawa perasaan bersalah, kamu membawa beban dan kalimat-kalimat negatif. Tapi itu necessary karena begitu kamu sudah menyakiti hati orang lain, akan sulit untuk mengembalikannya seperti semula.

Lain kali hati-hati dan berfikirlah sebelum bertindak.

--

--