Egois

Hidayat Abisena
4 min readMar 29, 2024
Asah empathy mu, sen!

Apakah kalian punya orang yang dituakan sebagai guru kehidupan tempat kalian bercerita tentang karir dan kehidupan?

Saya punya! Mentor saya seorang pengusaha sukses di sebuah desa. Minimal dalam beberapa bulan sekali saya mengunjungi beliau untuk update kehidupan dan “curhat”.

Jika sudah menemui beliau, api semangat saya langsung menyala. Beban keluh kesah saya sedikit berkurang. Itu berkat mentor saya yang dengan bijaknya mendengarkan dan menasehati saya. Tapi saya tidak merasa sedang dinasehati jika bertemu dengan beliau. Seperti sedang mengobrol dan berdiskusi panjang lebar tentang berbagai hal. Khususnya tentang karir, kehidupan dan pekerjaan.

Pagi ini saya tiba-tiba merasa penasaran. Saya sering curhat hal-hal sedih ke beliau, tapi saya belum pernah mendengarkan beliau curhat tentang kesedihannya kepada saya. Saya kira hidup beliau baik-baik saja. Saya hanya melihat yang di permukaan saja. Betapa beliau sukses membangun banyak bisnis dan hidup makmur sejahtera.

Yang tidak saya lihat adalah “Apakah ada duka dibalik itu semua?”.

Saya lihat, orang seperti beliau tidak mungkin merasakan kesedihan atau pun duka. Saya mengambil kesimpulan sendiri. Nyatanya, tidak ada manusia di dunia ini yang hidupnya lurus-lurus saja.

Lalu pagi ini saya putuskan untuk membaca blog nya dan terkejut ternyata banyak sekali update kehidupan yang beliau tuangkan di dalam blog, yang selama ini saya sudah tahu ceritanya dari beliau sendiri. Tapi ternyata beliau bercerita jauh lebih dalam di blog pribadinya tersebut.

Beliau bercerita tentang penyesalan-penyesalan di hidupnya. Cerita tentang kesedihannya yang mendalam ketika ditinggalkan orang-orang terkasih. Tentang ke-tidak-beraniannya membuka chat dan foto-foto terakhir dari orang-orang yang beliau kasihi. Ternyata beliau menyimpan luka sedalam itu. Yang belum pernah beliau perlihatkan kepada siapapun.

Tidak ada orang yang hidupnya lurus-lurus aja. Kalau temanmu tak pernah terlihat susah di depanmu, itu karena ia pandai menyembunyikannya. ~anonim

Character Arc

Salah satu sudut baca di book cafe Kineruku, Bandung.

Pagi ini setelah membaca blog nya beliau, saya merasa menjadi orang yang paling egois sedunia. Bahkan bisa jadi, selama ini saya adalah orang yang egois. Yang mementingkan dirinya sendiri. Kalaupun saya peduli kepada orang lain, tanpa saya sadari (bisa jadi) itu hanya demi kepentingan saya sendiri.

Seketika saya mengevaluasi relasi pertemanan seperti apa yang telah saya bangun. Ada kans bahwa relasi tersebut sebatas simbiosis mutualisme. Jika hanya sebatas simbiosis mutualisme, saya khawatir relasi tersebut tidak bertahan lama. Hanya bertahan ketika ada kepentingan bersama. Sebatas relasi transaksional.

Sebuah relasi yang dibangun berdasarkan asas simbiosis mutualisme, rentan untuk ditinggalkan ketika relasinya tidak menguntungkan lagi. Padahal, dunia ini tidak melulu isinya tentang suka sama suka. Tapi ada duka dan kepedihan. Betapa buruknya karakter saya apabila saya meninggalkan relasi yang sedang kesusahan. Memikirkan hal tersebut membuat saya down dan terus menerus mawas diri.

Sepertinya saya akan mengalokasikan momen khusus pasca lebaran ini, untuk mendatangi teman-teman saya namun bukan untuk urusan pekerjaan. Saya ingin mengenal mereka lebih jauh. Melihat sisi lain di hidup mereka. Dan menjadi pendengar yang baik. Seperti tagline salah satu insurance company: Always listening. Always understanding.

Closure

Lorong menuju coffeeshop Jala Jiva, Bandung.

Beberapa menit lalu saya menghubungi mentor saya. Menyampaikan bahwa saya membaca blog dan merasa sedih karena saya belum bisa menjadi mentee yang baik. Meminta maaf karena telah bersikap egois dengan tidak mengenal lebih dalam mentor saya dan problem yang beliau hadapi.

Beliau bilang:

Hal yang seperti itu tidak usah dipikirkan. Saya cerita di blog karena ingin mengenang mereka yang sudah tiada dan melanjutkan hidup bersama mereka yang masih ada bersama saya. Sekaligus sebagai hikmah dan pelajaran bagi saya pribadi agar “jangan kayak orang susah” jika menyangkut permintaan keluarga. Ini ujian hidup saya, kegetiran saya, pengingat bagi saya, karena Tuhan tahu saya sanggup untuk menjalaninya.

Sebenarnya jawaban tersebut malah membuat saya makin terdorong ke dalam lorong perasaan bersalah. Lalu sejurus kemudian langsung ingat, lho kan saya lagi menyadari bahwa saya egois dan harus diperbaiki. Masa sekarang kamu masih mau egois dengan memikirkan perasaan bersalah mu sendiri?

PR saya masih banyak ternyata. Dan ini jadi sebuah perjalanan panjang bagi saya tentang bagaimana berempati kepada masalah yang dihadapi oleh orang lain.

Orang bisa menunjukkan empatinya, tapi belum tentu benar-benar bisa merasakan. Tapi hari ini saya belajar bahwa showing emotion doesn’t make you a weak person.

--

--