Bicara

Hidayat Abisena
1 min readApr 12, 2024
Someone took a picture of me candidly

We don’t talk anymore

Entah berapa banyak sebuah relasi yang telah terjalin, berhenti begitu saja hanya karena saling berhenti bicara. Membiarkan asumsi-asumsi liar meletup di kepala. Meluapkan emosi-emosi melalui postingan anonymous no-mention. Meneriakan kata demi kata tentang ketidakadilan dari situasi yang tengah dialami. Melampiaskan kekecewaan kepada satu pihak. Menawarkan ide pintar untuk “seharusnya begini, sebaiknya begitu”.

Tapi pernah kah terpikir untuk mawas diri? Karena memang lebih mudah untuk membelah cermin ketimbang berkaca. Lebih mudah menyodorkan telunjuk pada orang lain, alih-alih melihat 3 jari lainnya (selain ibu jari) yang terkepal merujuk ke diri sendiri.

Aku sudah muak menjadi pihak yang senantiasa mengalah. Take it or leave it. Iya-iya, enggak-enggak. Jangan iya yang enggak-enggak.

Maka dari semua relasi yang terhenti, aku ingin sampaikan rasa terima kasih karena sempat mewarnai hidupku dalam nuansa putih abu-abu.

Dari semua relasi yang terhenti, aku pulang dengan kekalahan karena nyatanya bukan aku yang kau butuhkan.

Semua relasi yang terhenti, meski masih menyisakan tanya, aku telah memupuskan harapan tentang masa depan.

Yang terhenti, kau yang tak sempurna, tapi bagiku indah.

Cuma ada satu orang buat satu orang. Dan itu yang namanya belahan jiwa!

--

--